Rumah Habibie

Rumah eyang Habibie di München tertutup salju. Rumah yang didalamnya ada kenangan indah akan cinta dan perjuangan. Mengingat eyang, teringat perjalanan hidup tak selalu mulus. Teringat eyang masih muda harus berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya dalam dingin dan salju ke rumah karena tak punya biaya membeli tiket bus. Tak hanya itu, sepatu yang bolong pun melengkapi sakitnya kaki yang lecet didera dingin yang menggigit. Ah, menahan diri …Melihat kembali sepatu-sepatu Winter ku, yang juga tidak sempurna. Ada yang resletingnya tidak bisa dibuka, tapi masih bagus dan masih bisa dipakai. Ada yang pengait talinya lepas, tapi masih bisa dipakai juga. Ada yang lem bagian bawahnya mengelupas, sehingga udara dingin masuk. Semua masih bisa dipakai. Bersyukur masih punya beberapa sepatu walau ada cacatnya. Silahkan saja punya sepatu banyak, tas banyak, mobil dan rumah banyak selama memang itu perlu dan mampu membeli. Yang salah itu ketika tidak mampu dan akhirnya gaya hidup itulah yang menenggelamkan kita.
#self reminder

(source: FB Mba Ratna Widyastuti, kolega di Göttingen).

View on Path

Advertisements

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s