Silaturahmi itu…

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍوٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Dari Abdullah bin ‘Amru, Sufyan mengatakan; dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Bukanlah dikatakan penyambung silaturahmi bagi yang hanya hendak memenuhi kebutuhan, akan tetapi penyambung silaturahmi adalah orang yang menyambungnya kembali ketika tali silaturahmi itu sempat terputus” (HR Bukhari, 5532)

Keterangan: Salah satu pahala yang paling utama adalah ketika kita tetap menjaga tali kasih sayang (silaturahmi) termasuk kepada orang yang membenci, memutus silaturahmi, iri hasud dengki sinis membicarakan keburukan kita, bahkan mendzalimi diri kita. Karakter insan seperti ini adalah terus tetap berbuat baik, husnudzdzan, tetap mengasihi dan mendoakan kebaikan bagi pemutus silaturahmi dengannya. Nilai pahala silaturahmi sejenis ini tentu jauh lebih utama daripada ‘silaturahmi’ yang hanya berbasis kepentingan, misalnya mendekati penguasa, orang kaya, tokoh masyarakat, dsb hanya karena maksud (duniawi) tertentu. Wallahu a’lam.

Mohon maaf dan abaikan sekira kurang berkenan. Salam, M. Iqbal Irfany.

View on Path

Advertisements

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s