Keliru Investasi

Iman Sugema dan M. Iqbal Irfany

dimuat di HU Republika, Kamis 28 Agustus 2014

 

Akhir-akhir ini marak ditemui banyak pihak menawarkan produk investasi dengan menjanjikan imbal hasil yang fenomenal. Dari investasi yang ditanamkan, ada menjanjikan 10 persen, bahkan ada yang 30 persen perbulannya, satu kisaran yang di luar batas kewajaran. Banyak terjadi pengaduan masyarakat yang biasanya terjadi biasa karena ada pelarian dana investasi atau karena gagal bayar.

Mirisnya masyarakat yang terjebak berasal dari berbagai kalangan termasuk banyak di antaranya yang berpendidikan tinggi. Level pendidikan sepertinya tak menjamin melek literasi keuangan. Mereka yang semestinya secara logika mampu memilih dan memilah mana produk investasi berizin, return yang masuk akal, dan terjamin secara hukum, seringkali malah terjebak menjadi korban. Ketergesa-gesaan karena bernafsu ingin cepat untung, ingin berpenghasilan dengan hanya ongkang kaki biasanya adalah faktor yang berperan. Di samping perlindungan hukum terhadap risiko keuangan, dibutuhkan edukasi terus menerus sebagai deteksi dini agar masyarakat bisa terhindar dari produk-produk investasi bermasalah.

Dari modus yang biasa terjadi dalam delik aduan masyarakat, tawaran investasi bermasalah setidaknya bisa kategorikan menjadi dua. Kelompok pertama adalah memang karena produk investasinya adalah ‘bodong’ atau ada unsur penipuan. Bentuk tawaran investasi ini cukup mengkhawatirkan eksistensinya. Sebut saja laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyatakan selama 2013 sampai pertengahan 2014 sedikitnya terdapat 750 perusahaan abal-abal tak berizin atau yang perizinan usahanya disalahgunakan. Kasus terbaru misalnya berbentuk arisan ‘Manusia Membantu Manusia’ (MMM). Katanya sih sejauh ini pembagian return masih lancar, namun dengan sistem piramida dimana dana dari anggota di bawah dan rekrutan baru (downline) yang menjadi sumber dana bagi promotor di atasnya, aistem ini cepat atau lambat akan berhenti ketika tidak ada lagi anggota baru yang terjaring. Tinggal menunggu bom waktu saja.

Dari aspek regulasi, solusinya tentu dengan melakukan penertiban secara hukum terhadap tawaran investasi bodong tersebut. Namun yang lebih kompleks tentu saja dari sisi permintaan. Fenomena ini akan terus ada selama ada masyarakat yang berpikir instan dan tergiur janji manis produk investasi abal-abal. Patah tumbuh hilang berganti. Apalagi dalam banyak kasus, tawaran investasi bodong yang biasanya berkemas forex trading, multilevel marketing (MLM), investasi berbasis spekulasi emas dan sebagainya bahkan sering mengecoh dengan menyalahgunakan dalil agama, memelintir pernyataan tokoh agama (toga) atau tokoh masyarakat (tomas) yang dikesankan memberikan endorsement dan mempromosikan produk mereka. Masyarakat tentu harus lebih waspada.

Kategori kedua adalah produk investasi yang ditawarkan perusahaan berizin resmi, dengan underlying investasi yang jelas, namun demi menjaring dana yang masif dari investor, perusahaan terlalu pede dengan menawarkan imbal hasil fantastis bahkan fixed sejumlah tertentu tiap bulannya tanpa secara tepat memperhitungkan risiko bisnisnya. Contoh tipe ini misalnya kasus ‘koperasi’ perusahaan transportasi yang melakukan crowd funding demi ekspansi bisnisnya merambah sektor pertambangan dan sewa alat-alat berat.

Selama periode tertentu bisa jadi return investasi yang dijanjikan ‘koperasi’ bisa dicairkan secara berkala. Namun ketika return perusahaan tidak sesuai harapan atau ada permasalahan lain yang mengganggu cash flow proyek bisnisnya, perusahaan akan kesulitan membayar imbal hasil kepada mitra bisnis sehingga kemudian muncul lah gugatan-gugatan dari masyarakat. Jangankan return investasi yang dijanjikan bisa cair, pokok investasinya pun belum tentu kembali.

Bagi calon investor, dalam menilai suatu produk investasi, istilah high risk – high return mungkin bisa ditekankan menjadi high return – high risk, dimana satu produk yang menjanjikan keuntungan yang fantastis itu sejatinya jauh lebih berisiko, karena secara alamiah dan dalam kondisi normal keuntungan sebenarnya bisa diprediksi. Imbal hasil fantastis hanyalah janji manis saja.

Proses damai bisa saja dilakukan ketika ada sengketa gagal bayar, namun tentu isu dasarnya lebih jauh dari itu. Kami sudah bahas berulang kali di edisi ‘Bukan Tafsir’ terdahulu, bahwa investasi yang menawarkan imbal hasil tetap selama periode tertentu itu mengandung unsur ribawi. Fenomena ribawi ini adalah tentang ‘salah harga’ dan ‘salah menakar’ dimana imbal hasil bukan didasarkan atas real return dari bisnis, namun ‘secara fantastis’ telah ditetapkan sejak awal nominalnya dalam kontrak berdasarkan waktu. Rate of return tentu saja boleh disepakati sebesar prosentasi tertentu di awal, namun persentasinya adalah dari keuntungan usaha, bukan dari nominal investasinya.

Seperti kasus ribawi dalam meminjam uang, demikian pula dalam kasus meminjamkan (berinvestasi). Katakan Anda berinvestasi sebesar Rp 1000 dengan tingkat pengembalian yang diharapkan sebesar 10 persen per bulan, maka hasil investasi (bunga) yang Anda akan terima selama sebulan sederhanya adalah sebesar Ro 100, dan dua bulan sebesar Rp 200, dan seterusnya. Artinya besarnya hasil investasi yang Anda peroleh tergantung pada lamanya masa pinjaman dan pokok pinjaman. Rate of return dalam kasus ini sejatinya adalah ukuran manfaat atau ‘harga waktu’ (the price of time’). Logikanya, karena kita memberi tenggang waktu bagi perusahaan untuk berusaha dan mengembalikan investasi kita, maka seolah-olah waktulah yang menciptakan manfaat.  Padahal yang membuahkan manfaat atau keuntungan sejatinya adalah aktifitas usaha, bukan waktu.

Inilah satu pelajaran bagi kita bahwa transaksi ribawi hanya akan membuat kita cilaka karena melawan sunnatullah. Inilah motif yang berasal dari sifat manusia yang tergesa-gesa yang sangat dicela ajaran agama.

Advertisements

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s