Kilah, Kalah, dan Salah

Iman Sugema dan M. Iqbal Irfany

dimuat di HU Republika, 26 Desember 2013

Sebagai catatan akhir tahun kami meminta teman-teman yang lebih muda di program studi Ekonomi Syariah IPB untuk mulai giat menggali kembali khazanah pustaka ekonomi Islam klasik yang sudah lama terpendam dan jarang sekali menjadi rujukan para mahasiswa.  Tentunya tidak ada maksud untuk menghilangkan pemikiran-pemikiran para aktivis ekonomi Islam yang sekarang ini mulai menjamur di seantero jagat.  Hanya saja berkembang beberapa kekhawatiran yang cukup mendasar mengenai cara kita memandang dunia keuangan syariah yang semakin kompleks.  Rujukan klasik setidaknya menjadi ‘benchmark’ untuk kembali mengurai cara berfikir intelektual muslim mengenai system perekonomian sesuai dengan konteks zaman yang dihadapinya.  Setidaknya kita dapat meniru ‘cara berfikir’ mereka dalam mengaktualisasikan fiqih ke dalam zaman masing-masing.  Walaupun mungkin terdapat perbedaan yang sangat nyata dalam bertransaksi sekarang dengan zaman ‘baheula’, logika dasar fiqih syariah mestinya tetap berada pada best-practice yang secara turun temurun diwariskan.  Jadi motivasi kami adalah bagaimana konsistensi ‘best-practice’ dalam menyatakan pendapat hukum atas sebuah transaksi yang tidak memiliki preseden sebelumnya.  Ini menjadi penting dalam proses pembelajaran dan kehati-hatian dalam memberi ‘pelabelan halal’ atas berbagai transaksi keuangan yang saat ini semakin rumit.

Kekhawatiran pertama timbul karena industri keuangan syariah cenderung melakukan modifikasi terhadap transaksi keuangan konvensional untuk kemudian diadopsi sebagai transaksi keuangan yang ‘comply’ terhadap prinsip-prinsip syariah.  Hal seperti ini sudah umum terjadi dan bahkan dalam industry perbankan misalnya terdapat produk-produk yang sifatnya paralel dengan bank konvensional.  Bahkan dari segi istilah saja sudah hampir mirip, yang beda hanya embel-embel syariah saja.  Contohnya adalah tabungan syariah dan deposito syariah.  Kata mudharabah dalam penempatan uang di bank seakan ‘hilang’ ditelan angin dan diganti dengan tabungan atau deposito yang arti harfiahnya sama sekali jauh berbeda.  Walaupun dasarnya adalah mudharabah yang pada intinya adalah ‘patungan modal’ secara bareng-bareng untuk membiayai kegiatan produktif, tetapi pada prakteknya terdapat kebingungan diantara mayoritas nasabah untuk membedakan bagi hasil dengan bunga simpanan.  Karena itu, para bankir di garis depan seringkali dituntut memberi ‘rate’ bagi hasil yang lebih menguntungkan di atas suku bunga konvensional.  Kesalahan ‘pelabelan’ telah menyebabkan masyarakat menjadi salah mengerti tentang konsep dasar bagi hasil.

Sesuatu yang halal berdasarkan fatwa Dewan Syariah, telah ditafsirkan secara berbeda oleh masyarakat.  Jika kita percaya bahwa ‘segala amal perbuatan tergantung pada niat’ maka bisa jadi niat masyarakat bukan untuk ber-mudharabah.  Tetapi mungkin hanya sekedar menabung, menyimpan uang, dan kemudian dengan ongkang-ongkang kaki mendapatkan ‘tambahan’ dari uang tersebut.  Anda tahu sendiri khan apa terjemahan ‘tambahan’ dalam bahasa Arab?  Bukankah kalau niatnya sudah salah, kemudian perbuatannya juga pasti salah? Itu mungkin kasus yang sederhana namun sulit untuk dibuktikan terkecuali kita melakukan sebuah survey ilmiah mengenai motif atau niat.

Kekhawatiran kedua merupakan isu yang lebih makro dan sedikit rumit untuk difahami. Agar lebih mudah, kami beri satu contoh saja.  Dalam transaksi mudharabah yang murni terdapat mekanisme inheren stabilisasi dalam system moneter.  Tidak seperti halnya dalam perbankan konvensional, bila prinsip bagi hasil diterapkan secara ideal maka otoritas keuangan tidak lagi membutuhkan sertifikat bank sentral atau Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan penjaminan simpanan seperti yang disediakan oleh LPS.  Karena kita kadung salah mendefinisikan produk simpanan di bank syariah, maka Bank Indonesia terpaksa menerbitkan sertifikat wadi’ah Bank Indonesia (SWBI) sebagai bagian dari pengelolaan likuiditas perbankan.  LPS juga kadung memberi jaminan.  Karena kita membuat kilah, akhirnya hal-hal yang sangat baik yang ada dalam prinsip dasar ekonomi Islam ‘dikalahkan’ oleh pragmatisme.

Kekhawatiran ketiga terkait dengan semakin maraknya transaksi serial yang semakin rumit.  Biasanya hal ini dilakukan sebagai kilah untuk menyiasati transaksi supaya kelihatan berbau syariah.  Contoh yang paling mutakhir adalah sepekulasi harga emas yang dibungkus dengan transaksi jual beli (al bay), dan pembelian secara mencicil (qord).  Kilah seperti ini berakibat fatal karena aspek spekulasinya menjadi tersembunyi rapat-rapat.  Karena kilah, berujung salah.  Kilah, kalah dan salah.  Mudah-mudahan teman-teman muda kami akan menemukan cara untuk memecahkan hal seperti ini.

Advertisements

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s