Skema Investasi a la Pak Ustadz

Iman Sugema dan M. Iqbal Irfany

Dimuat di HU Republika, 22 Agustus 2013, hal 26

 

Akhir-akhir ini marak sekali penawaran investasi dari berbagai perusahaan atau individu baik yang berskim trading maupun berbentuk penyertaan modal. Salah satunya seperti ditawarkan seorang Ustadz terkenal akhir-akhir ini. Akad yang ditawarkan berskema bagi hasil dimana para investor akan memperoleh imbal hasil yang pasti tiap tahun sekitar 8 persen. Yakin akan keuntungan usaha per tahun yang akan melebihi rate of return ini, sisa berapa pun selisih keuntungan bisnis diakadkan sebagai sedekah bagi kepentingan ummat.

Niatnya memobilisasi dana masyarakat tentu teramat mulia dan patut diapresiasi. Apalagi investasi properti yang ditawarkan sejauh ini secara secara historikal memiliki kinerja yang cukup baik, di samping kenaikan harga properti (capital gain), keuntungan dari bisnis dari sewa properti memang cukup menggiurkan. Tanpa bermaksud menyinggung niat baik apalagi integritas Pak Ustadz, ada beberapa catatan yang bisa kita telaah sebagai berikut.

Pertama, komitmen pengelola dana yang berani menjanjikan keuntungan dalam level tertentu secara pasti selayaknya dikritisi. Untuk memenuhi komitmen pembagian return bisa sustainable dan modal dasar bisa dikembalikan pada periode yang disepakati, maka kegiatan usaha yang dikelola harus memiliki untung di atas nilai tersebut serta tidak ada kejadian luar biasa yang terjadi. Keyakinan dan keberanian penetapan rate of return tersebut boleh jadi karena pengelola dana melihat performa historikal serta prospek bisnis yang dilakukan, namun siapa yang berani menjamin keuntungan per tahun tersebut akan selalu terjadi secara konstan? Demikian pula bagaimana dengan (penyesuaian) nilai asset ketika dana investasi dikembalikan. Dalam kondisi normal saja seringkali fluktuasi keuntungan bisnis sulit diprediksi, belum lagi bagaimana kalau terjadi adverse shocks seperti bencana alam? Memperkirakan semuanya berjalan lancar dan pasti tentu melawan sunnatullah.

Kedua, karena investasi selalu menyangkut ketidakpastian tentang risk-and-return, perlindungan investor mutlak diperlukan. Pasalnya skema investasi a la Pak Ustadz belumlah memenuhi syarat sebagai badan hukum yang berhak untuk mengelola dana investasi yang dikumpulkan dari masyarakat. Mesti ada aspek legal yang mengikat semua pihak sehingga skema investasi yang dilakukan ada kontrol dan pertanggungjawaban yang jelas melalui mekanisme supervisi di bawah regulator.

Urgensi keperluan kelengkapan aspek legal beserta pengaturan dalam transaksi non-tunai atau utang-piutang (termasuk skema investasi) bisa kita telaah dalam QS al-Baqarah: 282. Tuntunan syariah dalam ayat terpanjang dalam Al Qur’an terkait penulisan, persaksian dan regulasi dalam transaksi non tunai dijelaskan begitu detail padahal pada zaman Nabi budaya tulis-menulis belumlah berkembang secara luas. Hal ini seakan mengisyaratkan bahwa akad utang-piutang akan dan terus berkembang kompleks sehingga membutuhkan tak hanya akad tertulis namun juga regulasi dan proses supervisi yang jelas yang memberikan kepastian. Di belahan dunia manapun, dinamisnya pasar finansial tak heran menjadikannya sebagai salah satu yang paling sering dan paling ketat regulasi dan pengawasannya.

Sebagian yang bisa kita tangkap dari ayat di atas adalah anjuran hal-hal sebagai berikut: ‘penulisan atas janji/utang’, adanya profesi/lembaga ‘penulis akad utang-piutang’, “keharusan menulis akad utang-piutang dengan benar (tidak menyalahi Allah dan aturan/perundang-undangan berlaku”, perlunya jaminan (atau penjamin), “perlunya saksi dan keharusan memilih saksi yang adil atau kredibel”, dan sebagainya. Menarik dilihat mengenai terminologi “saksi”, para ahli tafsir berpendapat bahwa dalam ayat ini yang dibahasakan bukanlah kata ‘syaahid’ (sembarang saksi), tetapi lebih dipilih kata ‘syahiid’ yang berarti “pihak yang telah dikenal kredibilitas serta telah berulang-ulang melaksanakan tugas tersebut, sehingga tidak ada keraguan menyangkut kesaksiannya”. Dalam konteks kelembagaan, tentu lembaga pengawas jasa keuangan adalah pihak yang berkompeten melakukannya.

Ketiga, kegiatan pengumpulan dana (crowd-funding) oleh individu tanpa aspek legal yang jelas sangatlah berisiko. Di dunia keuangan yang semakin kompleks dan dinamis seperti saat ini, bisnis ataupun investasi tidak bisa hanya mengandalkan integritas pribadi semata. Investor perlu diberikan perlindungan dengan kepastian hukum yang jelas. Tentu masih segar dalam ingatan marak terjadinya penipuan berkedok investasi, termasuk yang berkedok “investasi syariah”. Kita tak hendak mempersamakan skim investasi Pak Ustadz dengan skim investasi abal-abal tersebut, namun kita tidak ingin pihak-pihak pengelola investasi yang tak bertanggungjawab terus berkeliaran berinvestasi sehingga penipuan berkedok investasi tidak terulang kembali.

Terakhir adalah perihal terlalu sulitnya memisahkan antara ‘kepercayaan’ bahkan ‘ketaatan’ kepada Ustadz sebagai tokoh yang biasa dimintai nasehat agama dengan ‘keputusan investasi yang rasional’ dari pihak investor. Pasalnya dalam banyak kasus, seringkali tokoh masyarakat termasuk  kyai dapat “mengkapitalisasi” kepercayaan, silaturahmi, bahkan ketaatan ummat kepadanya menjadi sumber bisnis, bukan hanya melulu untuk keperluan pribadi tapi juga berkepentingan untuk kemaslahatan ummat. Walaupun dalam satu perkara seorang tokoh dihormati dan dituruti petuahnya, dalam kasus ini para investor mesti menganggapnya sebagai mitra bisnis.

Kami teringat sebuah riwayat hadits tentang riba fadhl perihal larangan pertukaran kurma kualitas jelek (milik Bilal bin Rabah) dengan kurma lain yang berkualitas lebih bagus (milik pedagang biasa), yang secara implisit dapat diinterpretasikan bahwa sebagian larangan pertukaran tersebut karena tidak dilandasi oleh rasionalitas fair trade namun lebih karena rasa hormat dan cinta terhadap Bilal yang dekat dengan Rasulullah SAW. Bukan bermaksud mempersamakan skim investasi Pak Ustadz sebagai riba fadhl, namun dalam banyak kasus memang seringkali terjadi suatu akad tidaklah didasarkan rasionalitas bisnis tapi karena  ada perkara lain yang ditendensikan secara berlebih.

Dari level kebijakan, pengalaman akhir-akhir ini memberi banyak pekerjaan besar bagi otoritas jasa keuangan (OJK). Demikian pula masyarakat secara umum perlu terus diedukasi agar semakin peka dan sadar akan pentingnya perlindungan investasi. Pragmatisme berpikir masyarakat yang cenderung latah berinvestasi apalagi return-nya menggiurkan. Sunnatullah-nya, setiap bisnis tetaplah memiliki fluktuasi yang tidak bisa kita pastikan. Karena itulah dibutuhkan ulil amri sebagai pengatur, pengawas, dan pelindung ketika terjadi wan-prestasi dari satu pihak atau ada kejadian yang tidak diinginkan di kemudian hari. Sesuai tuntunan syariat, serahkan segala urusan (dunia) pada ahlinya. Wallahu a’lam.

Advertisements

2 thoughts on “Skema Investasi a la Pak Ustadz

  1. jadi sebenarnya Pak Ustadz gak salah2 banget ya… hanya pengetahuan ttng investasi serta berbagai tetek bengeknya masih kurang. Mungkin Ustadz YM hrs punya SDM yg bener2 ngerti masalah investasi yang aman, rasional, dan bukan cuman modal bismillah…. IMO sih hehehehe 😀

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s