Abah: baruras tarahu….

Di tengah perjalanan, mobil angkot yang saya tumpangi berbelok mengisi bensin. Dalam antrian pengisian, datanglah abah tua 70 tahunan berjalan tergopoh-gopoh dan dengan suara serak-serak basah menawarkan barang dagangannya; “baruras tarahu baruras tarahu gorengan…”. Saya bertanya, “sabaraha Bah buras gorengana?”. Mata kuning beliau menatap saya dengan pandangan yang tajam, lalu beliau menjawab “lima ratusan, Cep, mangga haraneut”. Tersayat hati ini mendengarnya, ketika inflasi terus meraja termasuk harga beras dan minyak goreng terus melambung tinggi, masih ada yang menawarkan jualan seharga 500 perak. Orang seusia abah mestinya duduk manis menikmati masa tuanya, melihat cucu-cucunya tumbuh berkembang. Tuhan, ampuni kami.

“Abah, meser 5 buras 5 gorengan… kembaliana keur Abah wae, hatur nuhun pisan, hampura abdi, Bah”, timpal saya. Tuhan, ampuni aku yang baru saja menyisakan sarapan buatan istri karena terburu-buru berangkat ‘sakola’. Tuhan, ampuni kami.

Sepanjang perjalanan muncul dialog skeptis dalam hati. Kemanakah negara ini yang telah mengkhianati rakyatnya sendiri? Ke manakah abdi negeri yang justru telah melindas dan menggerus rakyatnya sendiri? Kemanakah masyarakat yang telah mendustakan saudaranya sendiri? Kemanakah anggaran rakyat lebih dari 1000 trilyun dan uang pajak 611 trilyun itu? Bagaimana pula nasib pengemplang pajak juga para amil yang sekaligus makelar pajak yang melakukan persekongkolan busuk dengan pengusaha nakal dalam rangka mengurangi beban pajak? Kemanakah para aghniya yang terus mengangguk ritmik dan ongkang kaki memeras keringat dan darah masyarakat kecil? Kemanakah cendekia yang hanya terus berkutat dengan teori dan bahkan mengabdi pada pengusaha dan penguasa? Adakah tatanan ekonomi dan sosial yang telah berlaku ini adil? Adakah kita sejatinya pendusta agama dan kemanusiaan? Adakah bangsa kita telah merdeka? Tuhan, ampuni kami.

Tuhan, ampunilah kami dan bangsa kami, para pemimpin kami. Tuhan, berilah kesabaran dan kekuatan pada mustadh’afin negeri, mereka adalah perisai bencana, pendoa-pendoa tak tertolak bangsa kami. Jadikan Kaum Miskin menjadi berdaya, dan ikut sertakan kami memberdayakan mereka… Tuhan, jadikanlah kami sebahagian penolong mustadh’afin sehingga tiada lagi orang yang layak ditolong, bukan malah menjadi bagian sistem penghardik mereka. Tuhan, kami rindu dua Umar (Umarain), Umar anak Khatab dan Umar anak Abdul Aziz, kami rindu Soedirman dan Hoegeng sang jenderal lurus dan bersahaja. Tuhan, kabulkanlah doa kami, agar para koruptor, para inlander negeri, para penegak hukum, para pengusaha penghalal segala cara, para penguasa abdi pengusaha, para cendekia pengingkar kecendiakawanan, dan para-para penghamba dunia, di negeri kami, agar hati mereka (dan hati kami) menjadi kaya, penuhkanlah kalbu mereka dengan cahaya iman, rasa takut dan malu, kecukupan akan karunia dan syukur. Atau, kalau mereka tetap saja, kami pasrahkan kepadaMu untuk Kau apakan saja. Tuhan, ampuni kami…

28 Maret 2010
Kampus berjalan: angkot Leuwiliang-Bubulak

Advertisements

2 thoughts on “Abah: baruras tarahu….

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s