Hidup Tanpa Tendensi

Saya sangat bersyukur diberikan nikmat kesempatan belajar kepada para ‘alim yang tak hanya berwawasan keilmuan yang luas dan dalam tapi juga mempunyai hikmah kebijaksanaan yang patut diteladani. Wejangan para guru sangat membekas dalam pembentukan pola pikir dan pola hati, pola intelektualitas dan spiritualitas. Saya mencoba mencoba mencari inti sari dari ajaran para guru, dan setelah saya renungi, dapatlah terkumpul dalam satu frasa “hidup tanpa tendensi”. Apakah maknanya? Berikut uraiannya.

“Hidup tanpa tendensi”, sebagaimana makna harfiahnya, berarti lepasnya kecenderungan terhadap dan segala sesuatu selain Tuhan (baca: makhluk). Dalam ilmu teologi (tauhid), makhluk didefinisikan sebagai “kullu ma akhdatsa”, yakni segala sesuatu yang baru (selain Tuhan), apapun itu. Bagi Anda yang muslim, tentu hal ini sejalan dengan makna kalimah syahadat “La ilaha illallah”, tiada tuhan selain Allah. Kalimat kesaksian ini diawali dengan penafian, yakni tiada satu pun yang kita tendensikan (ilah), apapun itu, selain Tuhan Semesta Alam. Diawali dengan pengosongan hati, setelah kosong secara otomatis “God Spot”, titik Cahaya Tuhan, akan mengisi hati kita. Tak dianggap benar-benar bertauhid kalau dalam hati kita diisi oleh selainNya, karena Tuhan memang sangat pencemburu.

Kembali pada definisi “selain Tuhan” (makhluk), bahwa di antara pasukan-pasukan “selain Tuhan” yang paling mengancam kita adalah justru diri kita sendiri, yakni hawa nafsu kita sendiri, karena sejatinya hawa nafsu adalah inheren sebagaimana firmanNya: “fa alhamaha fujuroha wataqwaha”, semua orang diberi ‘automatic ilham’, kecenderungan kepada keburukan dan taqwa. Dalam kaidah gramatika, huruf wawu dalam ayat ini bermakna “ordering” (berurutan), yakni secara otomatis nafsu manusia menuju keburukan (nafsu lawwamah) adalah lebih mengemuka dan lebih besar dibanding kecenderungan takwa (nafsu muthma’innah). Teori psikologi menunjukkan bahwa manusia cenderung untuk mencintai dirinya sendiri di atas segala-galanya. Hanya orang yang mampu membersihkan hatinya lah yang akan selamat dan berbahagia. “Qod aflaha man tazakka wa dzakarosma Robbihi fashalla”, artinya berbahagialah yang membersihkan jiwanya, dan celakalah bagi yang mengotori jiwanya. Dalam hal ini bahwa “hidup tanpa tendensi” berarti mensucikan jiwa kita dari ego kita sendiri. Lalu, bisakah kita memasrahkan dan meletakkan ego kita pada Ego Tuhan?

“Hidup tanpa tendensi” berarti bersikap zuhud, zero mind process. Mengosongkan hati kita selain Allah. Memerdekakan hati kita dan mengisinya selain apa pada keinginan Tuhan. “Hidup tanpa tendensi” berarti merdeka, merdeka dari apapun selain Allah.

“Hidup tanpa tendensi” bukan berarti kita dilarang berkeinginan. Kalau memang maknanya seperti itu, lalu untuk apa doa disyariatkan? seperti halnya dalam Kitab Suci, “ud’uuni astajib lakum’, berdoalah maka Tuhan akan mengijabahnya, untuk apa ada hadits yang mengatakan Tuhan mencintai ummatNya yang terus menerus memperbaiki diri? untuk apa ada hadits dimana jika hari ini tidak lebih baik dari hari sebelumnya, seorang manusia dikatakan “merugi”? untuk apa ada hadits bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai daripada mukmin yang lemah? Dan seterusnya.

“Hidup tanpa tendensi” berarti tak terpengaruh lingkungan dan persepsi alam semesta (makhluk). Segala persepsi kita hanyalah dikaitkan dengan persepsi Tuhan. Inilah konsepsi syukur dan ikhlas yang mesti tertancap kuat menghunjam, tak dipengaruhi situasi lingkungan. Adalah niscaya kita meyakini dan mensyukuri bahwa ketentuanNya adalah yang pasti terbaik bagi kita. Tuhan benar-benar mengatur segalanya “bi qadar”, sesuai dengan takaran atau kadarnya, precisely and proportionally. Karena Tuhan itu Lathif dan Khabir, Maha Teliti.

“Hidup tanpa tendensi” berarti konsisten. Adalah niscaya suatu konsistensi, seperti halnya idealisme para Rasul, Nabi, shahabat, tabiin, dan para salafus-shalih. Mereka menjadi orang yang mulia dan dikenang sejarah karena persistensi mereka mensucikan jiwanya.

“Hidup tanpa tendensi” berarti mewujudkan “la maujuda la ma’buda la mathluba la maqshuda illallah”. Tiada yang “ada” selain eksistensi Tuhan, tiada yang disembah selain Tuhan, tiada yang dipinta dan dimaksud selain Tuhan. Dalam setiap gerak langkah, dalam setiap hembusan nafas, dalam setiap gerak partikel atom dalam sel-sel tubuh, Tuhanlah yang menggerakkan kita.

“Hidup tanpa tendensi” berarti berucap “di dieu kieu ayeuna abdi tapak damel Gusti”. Bermakna bahwa kita, di sini, di tempat ini, dalam segala dimensi tempat (di dieu), dalam kondisi apapun, status seperti apapun (kieu), dan saat ini, dalam segenap dimensi waktu kita (ayeuna) adalah tapak (trace) pekerjaan Tuhan penggenggam semesta! Sebab itu, dalam setiap trace-Nya (na damel Allah nu ieu), kita dituntut untuk mengisinya dengan Cahaya Tuhan, berbakti dan mencari ridha Tuhan (bakti tur malar ridhana Pangeran). Hal tersebut mengandung pengertian tak peduli apa status, kondisi, bagaimana manusia dan seisi semesta lain memperlakukan kita, Allah lah sejatinya penggenggam kita! Tak risau, tak khawatir, tak takut. Bukankah kenikmatan terbesar adalah nikmat iman, dan karakter orang yang beriman adalah “la khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun”, tidak ada ketakutan dan kesedihan bagi mereka. Pertanyaan kritisnya, kalau kita masih punya rasa takut dan rasa khawatir, sejatinya keimanan kita mesti kita pertanyakan.

“Hidup tanpa tendensi” berarti meneladani Tuhan dengan segala sifat-sifatNya. Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang, berarti semuanya adalah; sebagaimana kita adalah khalifah (wakil) Tuhan di bumi ini. Teladanilah Tuhan dengan Asma’ul Husna-Nya, sifat-sifat terpujinya.

“Hidup tanpa tendensi” berarti berhusnudzan kepada Tuhan. Karena pasti Tuhan lah sebaik-baiknya pembuat rencana, dan rencana Allah lah pasti terbaik bagi hamba-Nya. Di sinilah konsep ikhlas dan syukur teraplikasi. Sumber kenikmatan dunia akhirat. Sebagaimana Tuhan berfirman dalam hadits qudsi. “Ana tahta dzanni ‘abdi bi”, artinya “Aku tergantung bagaimana persepsi hamba terhadapKu”.

“Hidup tanpa tendensi” berarti tak mempertuhankan amal, sebab amal juga dapat didefinisikan sebagai ‘selain Allah’. Sebagaimana ilmu Teologi mendefinisikan amal adalah juga makhluk-Nya. Adalah tidak relevan ketika kita mengatakan saya ingin kaya karenanya saya banyak shalat dhuha atau bersedekah, bisa sakti karena banyak wirid, dan sebagainya.

Secara sosial, “Hidup tanpa tendensi” berarti tak takut berbuat dan tak takut bicara yang benar. Tak peduli siapa pun lawan tindakan dan lawan bicara. Tak takut pada segala sesuatu selain Allah. Karena kita sejatinya tiada. “Qulil haq walau kana murran”, katakanlah yang benar, walaupun pahit dirasakan, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan kita . “Hidup tanpa tendensi” berarti menjadi bagian dari solusi, bukan justru menjadi bagian dari masalah, sebagaimana sunnatullah (hukum alam), yang walau terus mengalami pengrusakan akibat ulah manusia melalui hukum selain mekanisme Tuhan (thagut), akan terus berupaya mencapai keseimbangan dan harmoni.

Seseorang yang ber”Hidup tanpa tendensi” berarti:
Perkataannya ilmu dan hikmat kebijaksanaan
Gerakan hatinya adalah dzikir
Gerakan otaknya adalah tafakkur
Gerakan badannya adalah shalat
Ia menjaga lidahnya, semuanya…
Mulut dan segenap raganya tak mendahului hatinya….
Selagi benar, takut pada siapapun,
Dalam beramal, tak ingin dilihat siapapun
Karena, ia menyerahkan segala sesuatunya pada mekanisme Tuhan
Ia hidup bersama Penggenggam Semesta

“Hidup tanpa tendensi” berarti kosong,
Sebab dalam kosong bersemayam ilmu dan hikmah Tuhan
Sebab dalam kosong sejatinya ada ruang hampa tak berkesudahan…

Wallahu a’lam,
Angkot Leuwiliang-Bubulak, 09 Maret 2010

Advertisements

5 thoughts on “Hidup Tanpa Tendensi

  1. thanks ricky.
    Ah, saya hanya menyarikan wejangan guru-guru saja (semoga kasih sayang Allah atas mereka…)

  2. meskipun tulisan Sir Iqbal ini sudah jadul.. tapi ane baru baca… Amazing.. Awesome lah.. pokonamah TOP BGT.. but btw.. MU jgan tendensi ya sama tetangga sebelah… hehe…

    • Kalau nonton bola mesti ada tendensi klub yang didukung, kalau ga ya tak bisa menikmati pertandingan ke manapun golnya. Yang penting jangan “menurunkan pangkat” nonton bola menjadi menebarkan kebencian antarsesama 🙂

Comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s